Aku memang tak sehebat Jean Henry Dunant, yang telah mendirikan organisasi intersional bidang kemanusiaan. Aku juga tak sehebat Oprah Winfray yang telah mendonasikan sebagian besar hartanya untuk membantu masyarakat yang kekurangan. Aku memang tak sehebat tokoh-tokoh sosial lainnya. Namun setidaknya aku memiliki kemauan besar, kepedulian untuk membantu sesama dan ikut aktif dalam kegiatan masyarakat. Memang aku hanyalah seorang mahasiswa. Tak lebih dan tak kurang. Namun jangan pernah anggap remeh mahasiswa. Mahasiswa memiliki posisi dan peran penting dalam masyarakat.
Kita adalah mahkluk sosial. Kita hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Sudah sepantasnyalah kita mengabdi pada masyarakat, bukan malah bersikap apatis seperti realita yang banyak terjadi saat ini. Sekarang banyak kita jumpai mahasiswa yang apatis. Tidak peduli dengan apa yang ada di sekitar dan apa yang terjadi di sekililingnya. Yang hidup hanya untuk belajar dan belajar, atau istilahnya study oriented. Memang belajar adalah yang utama, namun kita harus menengok ke belakang. Siapakah kita ? Ada dimana kita? Kita adalah bagian dari masyarakat dan kita sekarang ada di tengah-tengah arus kehidupan masyarakat. Jadi sudah sepantasnyalah mahasiswa memerankan fungsinya sebagai kontrol sosial di tengah masyarakat.
Mahasiswa memiliki kedudukan lebih di mata masyarakat. mahasiswa mampu berada sedikit di atas kelas masyarakat karena dengan kesempatan dan kelebihan yang dimilikinya, mahasiswa dalam menjalankan aktifitasnya dituntut untuk mandiri, kreatif, dan idependen. Melihat potensi mahasiswa yang begitu besar, tidak sepantasnyalah peran mahasiswa yang hanya mementingkan kebutuhan pribadi saja. Melainkan harus tetap berkontribusi terhadap bangsa dan negarnya. Seperti yang telah dituliskan di atas, mahasiswa bukan menjadi siswa yang tanggung jawabnya hanya belajar, mahasiswa memiliki tempat tersendiri di lingkungan masyarakat.
Lalu bagaimana cara agar mahasiswa dapat berperan sebagai kontrol sosial? Pergerakan mahasiswa bukan hanya sekedar turun ke jalan saja, melainkan bersikap peduli terhadap rakyat yang ditunjukkan dengan memberikan bantuan baik secara moril dan materil bagi siapa saja yang membutuhkannya. Mahasiswa harus menumbuhkan jiwa sosial yang peduli pada keadaan rakyat yang mengalami penderitaan, ketidakadilan, dan ketertindasan. Bukan seperti yang ada saat ini, mahasiswa dinilai sebagai kaum ekslusif, kaum yang hanya bisa membuat kemacetan di kala aksi, tanpa sekalipun memberikan hasil yang konkret, yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Dengan kata lain, perjuangan dan peran mahasiswa saat ini telah kehilangan esensinya sehingga masyarakat sudah tidak menganggap peran mahasiswa sebagai suatu harapan.
Untuk itulah, aku menulis tulisan ini, dengan harapan dapat merubah paradigma di atas dan menghapus jurang lebar antara masyarakat dan mahasiswa. Memang kegiatan sosial yang telah aku lakukan selama ini belum berarti apa-apa. Membantu teman-teman yang kurang beruntung di Panti Asuhan, itulah yang bisa kulakukan selama ini. Namun aku tidak akan berhenti sampai disini saja. Melalui ajang pemilihan Duta Sosial ini, aku menaruh harapan besar untuk dapat menyebar dan menanam benih-benih jiwa sosial di hati seluruh masyarakat dan mahasiswa khususnya. Membumihanguskan sikap apatis. Memupuk dalam-dalam jiwa sosial tersebut agar terpatri di hati masyarakat dan mahasiswa, sehingga dapat di aplikasikan kapanpun dan dimanapun. Hidup mahasiswa ! Tunjukkan Jiwa Sosialmu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar